Minta Penggantian Uang Setelah Kehabisan Uang

Selamat Berjumpa Sahabat InfokreditBank semua..,

Sudah lama sekali rasanya saya tidak pernah menambahkan postingan baru di blog yang kita cintai ini, saya dengan segenap hati memohon maaf kepada seluruh Audiens yang terhormat. Bukan hati tak ingin membagi pengetahuan, hanya minda yang buntu lebih dari 1 tahun kebelakang, sampai sampai lupa akan membahas permasalahan apa yang dapat rekan semua fahami dan ketahui. 



Kali ini saya akan coba menyajikan salah satu produk Bank yang mungkin tidak ada di Semua Bank, karena memang sepertinya produk yang satu ini berpeluang besar terjadinya "Fraud" dalam Bahasa Perbankan, dimana REFINANCING adalah produk yang memberikan nilai suatu Barang selayaknya barang tersebut dibeli kembali oleh Pihak Bank dan si Pemilik kembali menjual Mobil tersebut kepada Bank, atau dengan bahasa "Pasar"nya menjaminkan Aset (Kendaraan / Properti) untuk mendapatkan Uang Tunai.


Untuk kata refinancing sendiri ada 2 pemahaman, yang PERTAMA yakni penggantian produk pinjaman lama dengan produk baru dimana terdapat pembeda baik di sisi Tenor Pinjaman ataupun Bunga yang dibebankan. Pengertian KEDUA adalah pengajuan Kredit dengan menggunakan Aset yang sudah dimiliki, seakan akan dibeli kembali, atau dalam Bahasa di Masyarakat -Khususnya Sumatera (karena saya dari Sumatera- dikatakan sebagai Di leasing kan.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas pengertian yang KEDUA, karena untuk pengertian pertama dapat dilihat pada tulisan berjudul TOP UP PINJAMAN, karena pengertian pertama tersebut lebih mirip dengan TOP UP Penggabungan fasilitas.

Ada beberapa point yang perlu diperhatikan jika akan melakukan Refinancing ini, Yaitu : 
1. Harga Pasaran Aset yang akan di Re-financing pada saat itu. Harga pasaran akan sangat berpengaruh pada saat refinancing, karena jumlah pinjaman yang akan diberikan, pada umumnya dihitung dari Nilai Pasar pada saat itu, sehingga akan sangat rugi rasanya jika Dana yang kita butuhkan kurang sedikit dari yang dicairkan oleh Pihak Bank. Karena seperti pada postingan sebelumnya yang membahas sedikit mengenai Jaminan (klik disini), dapat dilihat bahwa jumlah pembiayaan / pencairan akan lebih kecil dari Nilai Pasar Aset Itu sendiri, yang dinamakan juga dengan Nilai Likuidasi
2. Jenis Dokumen kepemilikan aset tersebut. Jenis dokumen dapat berpengaruh di saat Aset yang ada jaminkan masih kurang memadai di sisi Dokumennya (Contoh: Surat Tanah yang belum SHM). Sehingga hal ini dapat mempengaruhi penilaian, dan bahkan dapat berpotensi tidak disetujuinya pengajuan anda tersebut, karena ada syarat tertentu dalam dokumen kepemilikan aset yang mungkin berbeda antara bank satu dengan lainnya
3. Nama pemilik pada Dokumen Aset dimaksud. Point ini hampir sama dengan point kedua, namun lebih dititik beratkan pada Nama Pemilik, bukan Jenis Dokumennya. Karena jika proses pembelian aset sebelumnya belum dilakukan balik nama, maka Dokumen Tersebut tidak dapat di ajukan karena Yang mengajukan kredit wajib sekaligus pemilik Jaminan, walau ketentuan ini tidak berlaku untuk produk pinjaman lain. Untuk Refinancing wajib pemilik Jaminan yang mengajukan Kredit.

Baiklah.., sepertinya point pentingnya hanya dibagian tersebut, sementara untuk proses pengajuannya sama seperti pengajuan kredit lainnya. Silahkan dibaca pada postingan-postingan lain di Blog ini. Kesimpulan penutup dari saya adalah sbb : "Refinancing itu ibarat, minta penggantian uang setelah kehabisan uang karena membeli suatu aset, dan aset tersebut yang dibeli ulang dengan cicilan kembali (Jual Aset dapat uang, bulan depannya langsung cicilan pertama pembelian aset yg dijual tadi). (-red)

No comments:

Post a Comment